Senin, 15 Agustus 2011

cErita zakat


Dikatakan pada satu ketika Abu Hurairah r.a. telah diamanahkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam Abu Hurairah r.a. melihat seseorang mengendap-gendap hendak mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itu pun hendak dibawanya bertemu Rasulullah S.A.W. tetapi pencuri itu merayu minta dikasihani seraya menyatakan bahwa dia mencuri untuk memberi makan keluarganya yang kelaparan.
Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskan pencuri itu dengan berpesan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Keesokkan harinya perkara tersebut dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. tersenyum lalu bersabda bahwa pencuri itu pasti akan kembali.
Ternyata keesokkan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah r.a. menangkap pencuri itu lalu hendak dibawanya bertemu dengan Rasulullah S.A.W. Sekali lagi, pencuri itu merayu sehinggakan Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi. Keesokkan harinya, dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang mengulangi sabdanya bahwa pencuri itu pasti akan kembali.
Malam berikutnya pencuri itu ditangkap sekali lagi oleh Abu Hurairah r.a. dan mengancam akan membawanya bertemu Rasulullah S.A.W. Pencuri itu merayu meminta dibebaskan sekali lagi. Tetapi Abu Hurairah r.a. enggan melepaskannya, pencuri itu menyatakan dia akan mengajar sesuatu yang baik sekiranya ia di bebaskan. Pencuri itu menyatakan bahwa sekiranya seseorang itu membaca ayat Kursi sebelum tidur shaitan tidak akan menggangguinya.
Abu Hurairah r.a. merasa tersentuh mendengarkan ajaran pencuri itu lalu melepaskannya pergi. Keesokkan harinya dia melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang bersabda, pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkan kepada Abu Hurairah r.a. itu adalah perkara yang benar. Sebenarnya pencuri itu adalah shaitan yang dilaknat.
Walaupun Abu Hurairah r.a. merupakan seorang yang papa pada mulanya, dia telah dipinang oleh salah seorang majikannya yang kaya raya untuk putrinya, Bisrah binti Gazwan. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah pandangan seseorang dari membedakan kelas kepada menyanjung keimanan. Abu Hurairah r.a. dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.
Sejak menikah, Abu Hurairah r.a. membagi malamnya kepada tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Dia dan keluarganya tetap hidup sederhana walaupun setelah menjadi orang berada .
Abu Hurairah r.a. suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan memberi sedekah rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.
Rasulullah S.A.W. pernah mengutuskan Abu Hurairah r.a. berdakwah ke Bahrain bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami r.a. Dia juga pernah diutus bersama Quddamah r.a. untuk mengutip jizyah di Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.
Mungkin disebabkan oleh itu, Abu Hurairah r.a. diangkat menjadi gubernur Bahrain ketika Umar r.a. menjadi Amirul Mukminin. Tapi pada 23 Hijrah, Umar r.a. memecatnya karena Abu Hurairah r.a. dituduh menyimpan wang yang banyak sehingga 10,000 dinar. Ketika pembicaraan, Abu Hurairah r.a. berhasil membuktikan bahwa harta itu diperolehinya dari berternak kuda dan pemberian orang. Khalifah Umar r.a. menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu dia diminta menerima jabatan gubernur kembali, tapi Abu Hurairah r.a. menolak.
Penolakan itu diiringi lima alasan. “Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku tidak mau didebat; aku tak mau harta benda hasil pencarianku disita; dan aku takut nama baikku tercemar,” katanya. Dia memilih untuk tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.
Khalifah Umar ibn Khattab r.a. pula pernah melarang Abu Hurairah r.a. menyampaikan hadis dan hanya membolehkan menyampaikan ayat Al-Quran. Ini disebabkan tersebar khabar angin bahwa Abu Hurairah r.a. banyak memetik hadis palsu. Larangan khalifah baru dibatalkan setelah Abu Hurairah r.a. mengutarakan hadis mengenai bahaya hadis palsu.
Hadis itu bermakna,
“Barangsiapa yang berdusta padaku (Nabi S.A.W.) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan diri duduk dalam api neraka.”
Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad ibn Hanbal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar